Arsip

New Job, New Experience, New Life!

Long time no write!

Lama sudah blog ini tertinggalkan. Kesibukan yang tiada akhir dan tak jelas arahnya, cukup menyita waktu, perasaan dan of course duit saya, saudara-saudara. Jadi ceritanya, pada bulan Oktober tahun 2014 yang lalu saya mencoba peruntungan mengikuti tes CPNS, siapa tahu beruntung. Ya nggak?! Karena khawatir stress dan mengalami penyesalan yang sangat menyakitkan dan pastinya akan selalu menghantui (lebay dikit boleh lah yaa!) saya mencoba sebisa mungkin untuk menyempatkan waktu untuk belajar sedikit tes CPNS dan TOEFL. Sempat diejek juga sama teman-teman kantor karena secara gitu kan, seorang dosen matematika, pernah belajar keluar negeri, masa harus belajar lagi. Well, I know what I do, and I don’t want to regret anything later on. Jadi ceritanya saya, seorang rakyat jelata di UNRIKA, tak punya kesibukan apa-apa selain mengajar, mengurus jurnal yang hanya terbit sekali dalam satu semester, mendengarkan beberapa mahasiswa yang curhat karena galau Tugas Akhir maupun perkuliahan, so… I can do anything lah.

Pendek cerita setelah melakukan tes TKD, seleksi administrasi, dan tes TKB, alhamdulillah berkat doa semua orang padda tanggal 12 Februari 2015 saya dinyatakan lulus sebagai CPNS di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, unit tugas LPMP Kepulauan Riau sebagai Penyusun Program Fasilitasi dan Penjaminan Mutu Pendidikan. Tidak berlama-lama, tanggal 30 Maret 2015 ditetapkan SK Jabatan Fungsional dan TMT 1 April 2015 ditetapkanlah NIP sebagai CPNS. H2C alias Harap-Harap Cemas juga menunggu turunnya SK turun. Alhamdulillah titik terang itu mulai terlihat tepat di saat semua tugas, baik nilai, maupun tanggung jawab pada mahasiswa bimbingan Tugas Akhir sudah selesai.

Dengan berbekal duit dari menabung selama ini, dukungan dari orangtua, ucu Rasyid sekeluarga, keluarga besar terutama suami, saya nekat pindah ke Tanjungpinang. Tanjungpinang berbeda dari kota-kota yang selama ini pernah saya tempati. Tak ada mall, tak ada kemacetan lalu lintas yang berarti, tak ada kehidupan malam 24 jam seperti di Batam, tak ada hiruk pikuk, maupun berita kriminal seperti yang santar terdengar belakangan ini di Kota Batam. So far, so good lah. Kota yang tenang, nyaman, dan baik untuk membesarkan anak-anak. At least di daerah kontrakan sayalah.

Suasana kantor juga Alhamdulillah nyaman, pimpinan-pimpinan yang mengayomi, senior dan rekan-rekan kerja yang seperti keluarga sendiri. Ada yang menarik nih, di ruangan saya penuh dengan nama-nama Sangsekerta, ada Bu Eka Kasi Supervisi dan FPMP, Bu Tri, dan Pak Sapta, plus saya sendiri Dwi. Berada di kantor ini menyadarkan saya, ada banyak hal yang belum saya ketahui, dan ada banyak ilmu yang harus saya kuasai. Sebut saja sistem manajemen, penjaminan mutu, administrasi kenegaraan, pendek kata saya merasa jadi orang paling bego sedunia lah. To be honest with you, saya merasa kecil sekecilnya, seolah kehilangan jati diri. Saat saya merasa sangat desperate itulah, kemudian Allah SWT menggerakkan hati bu Ulfa, pimpinan LPMP untuk mengirimkan saya untuk mengikuti pelatihan Bahasa Inggris selama 10 hari di Jakarta. Tapi harga yang harus saya bayar untuk mengikuti pelatihan itu tidak murah, coy. Saya harus kehilangan moment berharga dalam kehidupanku, yaitu tidak menghadiri hari pernikahan abang satu-satunya yang aku miliki.

Sedihnya tak terkira kawan karena telah mengecewakan hati perasaan orang yang kita cintai. Alhamdulillah Allah menggantikan dengan penghiburan berupa keluarga baru yang asyik, baik, dan saling menjaga, peserta pelatihan Bahasa Inggris. Sebagai pengobat hati lainnya, saya diberikan anugerah lain yang tak usahlah diceritakan disini. Pekerjaan baru membawa perubahan besar dalam kehidupanku. Hidup terpisah dari suami, hidup di tempat yang jauh dari hiruk pikuk dunia, jauh dari tempat hiburan, menumpang hidup di rumah Ucu, bagai hidup terombang-ambing. Biarlah daripada saya harus menahan hati atas peristiwa-peristiwa yang tak mengenakkan tepat di akhir masa kerjaku. Kini saatnya tutup buku lama dan buka buku baru. Kembali mengukir prestasi, manfaatkan waktu luang untuk berkarya dan mewujudkan cita-cita yang tertunda, jadi penulis. Semoga semuanya berjalan lancar jaya dan terwujud sesuai rencana, meskipun kelak ada kerikil-kerikil tajam yang menghadang. Aamiin ya Rabb..

Kalkulus IV: Ujian Akhir Semester

Sesuai dengan peraturan akademik Universitas Riau kepulauan, dengan ini disampaikan kepada seluruh mahasiswa yang mengikuti perkuliahan Kalkulus IV, bahwasanya terjadi perubahan sistem penilaian. Berikut rinciannya:

  1. Nilai UTS : 25%
  2. Nilai UAS: 50%
  3. Absensi: 15%
  4. Tugas & Kuis : 10%

Dengan range penilaian:

  • 81<=A<=100
  • 66<=B<=80
  • 56<=C=<65
  • 46<=D<=55
  • 00<=E<=45

Terkait dengan nilai tugas anda, bagi mahasiswa yang belum mengumpulkan tugas Kalkulus IV, dapat dikumpulkan pada pertemuan terakhir pada hari selasa, pukul 19.30 WIB. Ruangan akan disesuaikan. Materi yang akan diujikan adalah materi yang dipelajari setelah UTS. Selanjutnya, kisi-kisi soal ujian dapat diunduh pada link berikut ini.

Kisi2 Ujian

Apakabar Bloggers!

Lama menghilang dari dunia per-blog-an, akhirnya saya dapat kembali menggoreskan sesuatu di blog pribadi ini. Hampir setahun (jangan-jangan sudah lebih) blog ini terbengkalai begitu saja. Maklum, kesibukan mengurus penelitian untuk tesis, menyelesaikannya hingga wisuda cukup menyita waktu, energi, dan perasaan. Loh kok?! Ya dong, selama setahun di Belanda saya hanya memiliki waktu tiga hari untuk melepas rindu dengan keluarga dan orang tercinta.

Pertanyaannya sekarang adalah apa saja yang sudah terjadi selama absen dari blog ini? Sangat luar biasa banyaknya. Mulai dari mengikuti South East Asia – Design/Development Research (SEA-DR) Conference yang pertama, berhasil menyelesaikan tesis dengan nilai A (bangga banget ya?!), wisuda, terbitnya jurnal pertama hasil buah pikirku yang dipoles oleh Pak Yusuf Hartono dan Bu Ratu Ilma  yang berjasa menyelesaikan permasalahan pembiayaannya, hingga dilamar oleh sang mantan pacar dan menikah, dan kini berstatus sebagai seorang dosen tetap di sebuah universitas swasta yang ada di Kota Batam. Hohoho.. banyak cerita banyak kisah.

Cerita kali ini ingin saya fokuskan ke pembahasan tentang cerita di balik penelitianku di SD Negeri 117 Palembang. Masa-masa bekerja dengan siswa kelas III.A  sangat saya nikmati, pasalnya selain bisa bernostalgia dengan masa kecil, siswa-siswa tersebut memiliki rasa antusias dan motivasi belajar yang relatif tinggi. Sebelum meneliti, tepatnya pada saat menyusun instrumen pembelajaran, ada banyak kekhawatiran yang mengalir dalam setiap mililiter darah dalam tubuh ini. Bagaimana kalau siswanya tidak tertarik dengan pelajarannya, bagaimana kalau siswa jadi tambah bingung, bagaimana kalau gurunya tidak mau bekerjasaam untuk mengajarkan topik ini? dan banyak pertanyaan lain yang istilah remaja saat itu bikin galau keleees… Pada saat itu Mieke selalu menguatkan, “You design an interested lesson series and it is beautifully connected each other. I should say that you are born with many hidden talents and as a designer. You are full of surprises”. Kata-kata yang diucapkan Mieke pada saat farewell party tersebut masih terekam jelas diingatanku. Mieke J. Abels, sang supervisor juga mengatakan “It was the project in which you are struggle working with your group that make you fall in love in this topic. At that moment, I saw your blinking eyes and I thought that this girl who is always says “I don’t know” every time we discuss about Geometry has fallen in love with Geometry” .

Ketika topik ini terpilih, masih terdapat masalah lain yang lebih krusial. Setelah dicek dan ricek dengan mengobrak-abrik silabus, SK, KD, hasilnya ternyata topik ini diluar pembahasan kurikulum. Maarten, Mieke, Dolly, dan Frans berjuang meyakinkan supervisor dari Unsri yang pada saat itu diwakili oleh Pak Zulkardi dan Bu Ratu Ilma. Alhamdulillah topik ini diluluskan pada saat seminar proposal yang dilaksanakan di sebuah benteng tua bersejarah di Utrecht. Dengan memanfaatkan pengaruh Bu Ratu Ilma dan dengan kerjasama Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Wali kelas, dan tentu saja siswa kelas III.a, alhamdulillah penelitian ini bisa berjalan dengan baik.

Meneliti di Palembang tak mudah, kawan. Tak ada teman yang mendampingi, jauhnya lokasi penelitian dari kos-kosan, macetnya kota Palembang, dan yang paling parah waktu itu adalah aku harus berjuang melawan penyakitku yang sewaktu-waktu bisa kambuh jika badan sudah terlewat lelah. Aku masih ingat suara papa yang menangis di ujung hand phone pada saat penyakitku kambuh, dan pada saat itu aku seorang diri, kawan. Tanpa teman, tanpa saudara. Belum lagi saat aku disuruh rawat inap sama dokter, gila aja tinggal sendirian di rumah sakit, dengan infus di tangan. Nee.. Nee… Nee… Tapi semua itu berbuah indah, sebuah kepuasan batin yang tak tertandingi oleh gelar Master of Science (M.Sc) yang diberikan oleh universitas. Saya telah memberikan sebuah kontribusi penting dalam penelitian Design Research di bidang Spatial Ability, yakni sebuah konjektur pemikiran siswa yang sebelumnya belum pernah didokumentasikan lewat karya tulis ilmiah. Boleh bangga dikit dong dengan diri sendiri. Hehehe.. 😉

Menuntut ilmu ibarat menanam pohon buah, awalnya terasa sulit tapi buahnya manis (bukan buah mengkudu ya, tapi tetap aja banyak khasiatnya buah mengkudu itu kan?). Setelah sekian banyak pengorbanan, pohon tersebut akhirnya mulai berbunga. Artikelku, karya tulisku, hasil penelitianku dinyatakan lulus seleksi di sebuah jurnal bertaraf internasional. Ga percaya?! Cek deh link berikut ini http://www.ccsenet.org/journal/index.php/ies/article/view/28241. There is my name! Hehehe… Tawaran datang silih berganti dari penerbit, mulai dari tawaran resmi dari Utrecht Universiteit untuk menerbitkan tesisku dalam bentuk hard copy, tawaran untuk menuliskan buku yang sumbernya dari penelitianku, tawaran beasiswa S3 untuk meneliti topik tsb lebih lanjut, dsb. Lumayanlah, bikin hati berbunga-bunga dan membuat diri merasa penting setelah sempat down karena tak kunjung dapat panggilan kerja.

1 minggu setelah wisuda, akhirnya sebuah pinangan datang ke orangtuaku. Seminggu kemudian pinangan tersebut diresmikan dengan acara hantaran belanja (adat melayu Riau) atau biasa kita kenal sebagai acara pertunangan. Selang beberapa bulan akhirnya pada tanggal 10 Januari 2014, statusku resmi menjadi istri dari Muhamad Said. Tanggal 11 Janurari 2014 pun dipilih sebagai hari resepsi pernikahannya. Kini, tepat 3 bulan setelah menikah statusku sudah bertambah satu lagi, sebagai pengajar di Universitas Riau Kepulauan. Ini kisahku… Tak sabar ingin menulis tentang matematika atau PMRI di tulisan selanjutnya.

Batam, Mengenang

Karakter Pembelajaran Abad 21 vs. Pembelajaran PMRI

Belajar Geometri melalui Telur Unggas

Pada hari Senin, 28 November 2011 yang lalu, kami mengikuti perkuliahan Introduction to RME yang dibimbing oleh Prof Zulkardi, salah satu tokoh P4MRI dari UNSRI-Palembang. Dalam perkuliahan tersebut, Prof Zulkardi memberikan kami tugas untuk menyusun puzzle, yang berupa potongan dari sebuah telur. Kami yang terdiri dari 15 mahasiswa dibagi kedalam 5 kelompok, yang masing-masing beranggotakan 3-4 orang. Tiap kelompok mencoba untuk menyusun dan kemudian menganalisis permainan ini.  Inti dari permainan puzzle ini adalah untuk menyusun potongan telur sehingga membentuk unggas yang sesuai dengan gambar yang diberikan. Oleh karena itulah, permainan ini diberi nama hatching the egg– menetaskan telur.

Hatching The Egg

Pada dasarnya, konsep pembelajaran menggunakan puzzle ini sama dengan konsep pembelajaran dengan menggunakan tangram yang mana sudah pernah kami pelajari dan susun bersama pada pertemuan sebelumnya. Hanya saja tingkat kesulitan menyusun puzzle telur ini lebih tinggi dibanding menyusun tangram yang lalu. Hal ini dikarenakan bentuk bangun datar hasil potongan puzzle telur lebih rumit daripada potongan tangram, yang notabene merupakan bangun datar sederhana (persegi, segitiga, dan jajar genjang) dan banyak potongan yang lebih banyak dibanding tangram. Puzzle telur terdiri dari 10 potongan bangun datar sedangkan tangram terdiri dari 7 potongan bangun datar.

Permainan ini merupakan salah satu contoh model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik pembelajaran abad ke-21,yaitu:

  1.  Adanya communication dalam tiap kelompok. Komunikasi yang terjadi meliputi pembagian tugas,  adu argumentasi/pendapat tentang bentuk susunan puzzle sudah sesuai dengan gambar yang diinginkan atau belum, dan juga dibuktian susunan yang terbentuk telah sesuai.
  2. Collaboration (team work). Pada dasarnya melelui komunikasi yang terjadi, maka disanalah proses kolaborasi/ kerjasama dalam tim terwujud. Dengan adanya komunikasi yang baik di dalam tim maka proses kerjasama tim akan berjalan dengan baik.
  3. Critical thinking and problem solving.Pada dasarnya permainan ini merupakan salah satu cara untuk mempelajari geometri, namun dengan tingkatan yang lebih tinggi daripada sekadar pengenalan bentuk  bangun datar saja. Melalui permainan ini, siswa akan dituntut berpikir kritis dan belajar memecahkan masalah. Dari proses inilah, karakter siswa untuk dapat berpikir, bernalar, dan memecahkan masalah dapat terbentuk.
  4.  Creativity and innovation. Salah satu kelebihan dari permainan ini juga untuk meningkatakan kreativitas dan inovasi kelompok dalam proses pemecahan masalah. Misalnya, pada umumnya seseorang/ suatu kelompok dalam menyusun puzzle akan mencoba-coba secara acak dan kemudian menebak-nebak begitu saja hingga akhirnya terbentuklah gambar yang diinginkan. Hal ini tentunya akan membutuhkan waktu yang lama. Namun salah satu inovasi yang dapat dilakukan untuk mendapatkan hasil susunan dengan lebih cepat adalah dengan menggambar gari-garis bantu pada pola unggas terlebih dahulu dengan pola potongan-potongan dari telur. Kemudian barulah kita susun dan mencoba mengubah di beberapa bagian saja.

Dari 4 karakteristik pembelajaran pembelajaran di abad 21 diatas, dapat kita generalisaikan dalam lima karakteristik pembelajaran dengan pendekatan PMRI dan dapat dijabarkan sebagai berikut :

  1. Phenomenological exploration or the use of contexts (menggunakan masalah kontekstual). Dalam pembelajaran Hatcing the eggs menggunakan masalah kontekstual. Masalah kontekstual disini adalah proses menetasakan telur unggas. Secara jelas proses menetasnya telur unggas pernah dilihat/diamati oleh siswa. Masalah kontekstual ini merupakan titik tolak dimana pembelajaran matematika yang kita inginkan dapat muncul.
  2. The use of the models or bridging by vertical instruments (menggunakan model). Oleh karena pembelajaran matematika itu kadang butuh waktuh yang panjang dan sering bergerak dalam berbagai abstraksi maka dalam abstraksi ini perlu digunakan model. Model yang digunakan ini bertujuan sebagai jembatan dari konkret ke abstrak atau dari abstrak ke abstrak lain. Namun tentunya ada beberapa masalah konteks yang tidak dapat kita perlihatkan dengan model yang riil. Salah satunya adalah konteks menetaskan telur ini, kita pastinya sulit untuk membawa dan menghadirkan telur yang akan menetas. Sehingga perlu adanya model yang lain, yang sama-sama dapat mewakili kondisi atau masalah riil yang ada. Model yang digunakan dalam pembelajaran Heatcing the eggs ini adalah menyususn potongan puzzle dari telur menjadi gambar salah satu jenis unggas (ayam, bebek atau burung).
  3. The use of the students own productions and constructions or students contribution (menghargai ragam jawaban dan kontribusi siswa). Proses pembeljaran ini menuntut kontribusi yang besar dari siswa dimana dalam menyusun puzzle dari telur membentuk gambar salah satu unggas. Siswa berupaya untuk memecahkan masalah dengan cara mereka sendiri dalam menyususn potongan puzzle. Jawaban siswa juga tidak dibatasi, semua jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan dan jelas dihargai oleh guru.
  4. The interactive character of the teaching process or interactivity (interaktivitas). Dalam pembelajaran ini jelas terlihat interaksi baik antar siswa dan siswa maupun antara siswa dan guru yang berperan sebagai fasilitator. Guru mencoba menbantu dengan memberikan gambar salah satu contoh dari potongan puzzle yang telah dibentuk menjadi burung dan siswa disemangati untuk mencari model-model unggas yang berbeda. Dalam proses pembelajaran siswa saling berdiskusi, saling memberikan penjelasan, membangun kerja sama, dan saling menilai dan memberi masukan.
  5. The intertwining  of various learning strands (terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya). Hubungan pembelajaran hatcing the eggs dengan karekteristik kelima ini adalah ada keterkaitan antara pembelajaran matematika dengan pembelajaran sains dimana siswa tidak saja belajar memecahkan masalah lewat menyusun puzzle tetapi siswa juga dapat belajar geometri dimana ada beberapa bangun seperti segitiga dan juring lingkaran.

Palindrome

Yang sebenarnya menarik dan belum banyak disinggung bahwa 11-11-11 adalah palindrome. Istilah palindrome sendiri tak ada kaitannya sama sekali dengan dunia mistis maupun hari kiamat. Palindrome adalah susunan angka, kata, atau frase yang bila dibaca dari depan maupun belakang tetap sama.

Contoh palindrome kata yang terkenal adalah “Madam, I’m Adam”. Coba baca dari depan maupun belakang dengan mengabaikan apostrof, bunyinya akan sama. Contoh lain yang bisa dicermati adalah “was it a rat i saw” serta kata “level”. Dalam bahasa Indonesia, ada juga beberapa contoh. Misalnya “kasur rusak”, sama bukan jika dibaca dari dua arah. Sementara, ada juga contoh lain, di antaranya “rumus sumur”, “kosok”, “katak”, “malam”, “taat” serta “aku suka”.

Nah, 11-11-11 adalah salah satu bentuk angka jika formulanya adalah tanggal-bulan-tahun, dengan tulisan tahun hanya ditulis dua digit. Dengan formula bulan-tanggal-tahun, bulan ini juga ada angka palindrome, yakni 11-02-2011. Tahun depan, akan ada beberapa palindrome. Dengan formula bulan-tanggal-tahun ada 2-10-2012 dan 21-02-2012. Dengan formula tanggal-bulan-tahun, ada 2-10-2012. Dalam jangka panjang, ada tanggal 02-02-2020 serta 13-02-2031.

Palindrome juga dikenal pada angka-angka biasa, misalnya 131 dan 12345678987654321. ada juga contoh operasi hitung yang panjang dan rumit yang nantinya akan menghasilkan palindrome angka, contohnya bila memulai menambahkan angka palindrome, 89+98. Cermati operasi hitung berikut :

89 + 98 = 187
187 + 781 = 968
968 + 869 = 1837
1837 + 7381 = 9218
9218 + 8129 = 17347
17347 + 74371 = 91718
91718 + 81719 = 173437
173437 + 734371 = 907808
907808 + 808709 = 1716517
1716517 + 7156171 = 8872688
8872688 + 8862788 = 17735476
17735476 + 67453771 = 85189247
85189247 + 74298158 = 159487405
159487405 + 504784951 = 664272356
664272356 + 653272466 = 1317544822
1317544822 + 2284457131 = 3602001953
3602001953 + 3591002063 = 7193004016
7193004016 + 6104003917 = 13297007933
13297007933 + 33970079231 = 47267087164
47267087164 + 46178076274 = 93445163438
93445163438 + 83436154439 = 176881317877
176881317877 + 778713188671 = 955594506548
955594506548 + 845605495559 = 1801200002107
1801200002107 + 7012000021081 = 8813200023188

Coba lihat hasil akhir, angka 8813200023188, yang merupakan contoh palindrome angka. Dan, angka itu didapatkan dengan cara menjumlahkan palindrome angka, yang hasilnya lalu ditambahkan lagi dengan angka yang dibaca dari arah berlawanan.

Dalam sejarah, angka-angka cantik termasuk palindrome angka dianggap memiliki makna tertentu. Tapi, apakah benar memiliki makna? Psikolog berpandangan bahwa cara manusia memaknai angka cantik mungkin hanya “apophenia”. Definisi istilah tersebut adalah kecenderungan manusia untuk selalu mencari arti di balik data yang random. Karena pencarian itu kadang manusia lalu membuat kaitan pada sesuatu yang tak terkait.

Para ilmuwan mengatakan bahwa manusia punya kemampuan kognitif sehingga cenderung selalu menalar. Kemampuan menalar jelas memberikan hal baik kala menganalisa. tapi jika “terlalu”, manusia kadang justru menalar hal-hal yang sebenarnya tak ada. Jadi, 11-11-11 mungkin tak ada maknanya sama sekali.

Orang hanya mulai memaknai ketika ada satu orang mengungkap salah satu pandangan tentang angka itu. Pandangan kemudian menyebar lewat mulut atau jejaring sosial sehingga heboh dan seolah istimewa.

Namun, jika memang beberapa kalangan menganggap tanggal ini istimewa, tentunya tak masalah. Misalnya, bagi mereka yang melangsungkan pernikahan pada 11-11-11 dan pukul 11.11, tentunya pada akhirnya tanggal itu akan berarti secara personal.

Quoted from: http://www.facebook.com/?ref=home#!/notes/yunita-sandra-grener/palindrom/10150392286124791a

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.