Arsip

Desain Pembelajaran: “3 Dimensional Visualisation into 2 Dimensional Figure”

Lama menghilang dari jagad per-blog-an akhirnya ada juga sesuatu yang bisa dibagikan di blog ini selain kisah ngalur-ngidul yang kemarin. Kali ini saya ingin berbagi dengan para pembaca tentang desain pembelajaran yang saya dan rekan saya; Ismi dan Mary (Iran) susun selama periode summer school yang lalu. Nah, untuk mengantisipasi akan terjadinya kebingungan dan hati yang bertanya-tanya tentang apa itu Utrecht Summer School, saya cerita dulu ya.

Sebelum mengikuti Summer School ini, yang ada dalam bayanganku adalah Summer School adalah kegiatan tambahan untuk pelajar yang sama sekali tidak lulus dalam block ataupun yang nilainya rendah. Tetapi, Summer School kali ini sama sekali berbeda dengan apa yang ditayangkan di film-film Hollywood. Kegiatan Utrecht Summer School in Mathematics Education yang saya ikuti adalah semcam kegiatan workshop yang dihadiri oleh 65 peserta dari 10 negara se-dunia. Kegiatan ini diikuti oleh perserta yang berasal dari USA, Indonesia, Iran, Turki, Jerman, Italia, Jepang, Singapore, Brazil, dan Meksiko. Anda harus merogoh saku sebesar € 890 untuk mengikuti serangkaian aktifitas berupa Workshop on Teaching, Lectures, dan Working Parallel. Baca lebih lanjut

Al-Kashi

Ghiyath al-Din Jamshid Mas’ud al-Kashani or Al-Kashi who was born in 1380 in Khasan and died in 22 June 1429 at Samarkand is an astronomer and one of the best mathematician in Islam. He spent her life in Mathematics and Astronomy

Details of Jamshid al-Kashi‘s life and works are better known than many others from this period although details of his life are sketchy. One of the reasons we is that he dated many of his works with the exact date on which they were completed, another reason is that a number of letters which he wrote to his father have survived and give fascinating information.

Al-Kashi was born in Kashan which lies in a desert at the eastern foot of the Central Iranian Range. At the time that al-Kashi was growing up Timur (often known as Tamburlaine) was conquering large regions. He had proclaimed himself sovereign and restorer of the Mongol empire at Samarkand in 1370 and, in 1383, Timur began his conquests in Persia with the capture of Herat. Timur died in 1405 and his empire was divided between his two sons, one of whom was Shah Rokh.

While Timur was undertaking his military campaigns, conditions were very difficult with widespread poverty. al-Kashi lived in poverty, like so many others at this time, and devoted himself to astronomy and mathematics while moving from town to town. Conditions improved markedly when Shah Rokh took over after his father’s death. He brought economic prosperity to the region and strongly supported artistic and intellectual life. With the changing atmosphere, al-Kashi’s life also improved markedly. The first event in al-Kashi’s life which we can date accurately is his observation of an eclipse of the moon which he made in Kashan on 2 June 1406. Baca lebih lanjut

Curahan Hatiku

Hari ini adalah hari terakhir jelang deadline untuk presentasi materi tesisku. :)
Aku tuh baru nyadar ternyata nyari ide itu susah ya.
beruntung punya mama seorang guru matematika yang kreatif :), dengan sedikit bincang-bincang dengan mama melalui :), akhirnya sedikit demi sedikit ide itupun tiba.
Yes :)
Thank you mama :) YOU ARE THE BEST deg pokoknya..

Akhirnya, aku memutuskan untuk menerapkan apa yang menjadi permasalahan yang dihadapi mama ketika mengajar. Ternyata, siswa itu mengalami kesulitan dalam melakukan operasi bilangan bulat negatif dan positif. Berangkat dari ide bermain kartu dikaitkan dengan ini dan itu, akhirnya kuputuskan untuk melakukan penelitian dan mengaplikasikan design research ku di kelas 4 SD. :)

Kalau ada yang bertanya, mengapa harus di SD sih penelitiannya? :)
Jawabannya sederhana saja, hal ini sesuai dengan prinsip penerapan PMRI yaitu “bottom-up”.
di PMRI siswa diajak untuk menemukan kembali (reinvention) apa itu matematika. Nah, untuk menemukan sesuatu diperlukan pemikiran yang kritis, dan mental yang tak hanya ingin menerima alias disuapin materi aja, tapi juga mampu menciptakan, alias menemukan rumusan sendiri.

Pekerjaan membina mental yang demikian tersebut, akan lebih baik dan lebih mudah jika dididik sejak kecil. Intinya adalah pembiasaan. Kalau siswa tidak biasa dari kecil untuk berpikir kritis, mampu memberikan argumentasi, mampu aktif dalam diskusi, dan berani mengungkapkan mana yang benar dan salah, yakin deh.. kedepannya pasti susah. :)

salah satu karakter pelajar Indonesia adalah tidak mampu berargumentasi. Kalau untuk pengetahuan dan kepintaran, tidak diragukan lagi deh pintarnya siswa-siswi kita. Tapi, kalau urusan ngomong di depan kelas, wah… pada ciut deh nyalinya. :).

Menurutku, hal ini bisa terjadi karena banyak faktor yang mempengaruhi seperti: continue reading

Matematikawan muda asal Indonesia

Artikel di bawah ini saya ambil dari MILIS Fisika Indonesia. Saya letakan di blog ini agar kita selalu bisa belajar dari pengalaman orang lain dan bisa menggali yang terbaik dari orang lain untuk mengimprove diri kita. Sukses buat Mas Hadi Susanto 😉

Sekedar informasi :

Hadi Susanto adalah matematikawan Indonesia alumni dari ITB dan melanjutkan studi Doktoral bidang Matematik di University of Twente. Sejak januari 2008 menjadi staf pengajar di University of Nottingham, Inggris. Baca lebih lanjut

Origami dan Matematika

MATEMATIKAMENYENANGKAN.COM Saya yakin Anda semua pasti sudah mengenal apa itu origami.

Menurut wikipedia, Origami berasal dari kata ori dan kami. “Ori” artinya melipat dan “kami” artinya kertas. Origami merupakan seni tradisional melipat kertas  masyarakat jepang. Dimulai pada abad ke-17 dan dipopulerkan pada pertengahan tahun 1900-an. Selanjutnya origami dikenal sebagai seni modern dalam melipat kertas, dan dikenal umum di seluruh penjuru dunia. Baca lebih lanjut

Siapakah Pembunuhnya???

Di sebuah pemukiman elit di daerah ibu kota, seorang inspektur polisi bernama Keroro sedang memeriksa sebuah kasus pembunuhan. Enam tersangka telah bersamanya di kamar duduk untuk ditanyai. Ia tahu bahwa pada malam pembunuhan, Nona Lili berada di ruang belajar, dapur, atau ruang makan. Tuan Baron sedang di dapur, ruang keluarga, atau ruang makan. Nona Upit di ruang belajar, dapur, atau rumah kaca.

Kolonel Rubi sedang di dapur atau ruang keluarga. Tuan Split di ruang belajar, perpustakaan, ruang keluarga, atau rumah kaca. Dan profesor Tono sedang di dapur, perpustakaan, rumah kaca, atau ruang makan. Ia juga mengetahui bahwa tiap ruang hanya cukup ditempati satu orang saja didalamnya.

Peristiwa besar datang.

“Dan kini aku akan mengumumkan siapa pembunuhnya,” kata Inspektur Keroro. “Pembunuhnya adalah …mmm, di ruang keluarga.”

Masalahnya adalah, pak inspektur tidak mempunyai ide tentang siapa yang berada di ruang keluarga. Jadi, siapakah sang pembunuh itu?