Arsip

Kunjungan ke Daltonshool Rijnsweerd (Part 1)

Hari ini (31 January 2012) kami, mahasiswa batch 3 IMPoME melakukan kunjungan ke salah satu sekolah unik yang ada di Utrecht, Belanda. Tujuan kunjungan ini adalah melihat sejauh mana perbedaan kurikulum yang diterapkan di sekolah ini dengan sekolah-sekolah yang ada di tanah air. Di awali dengan  serangkaian kisah lucu tentang bagaimana paniknya wajah salah satu teman kami karena perubahan jalur bus yang diluar dugaan (maklum baru) sampai berjumpa dengan warga negara Belanda yang menyapa ramah dengan bahasa Indonesia, hingga ngalur ngidul mencari bus stop station. Pagi hari yang masih terbilang sangat gelap, sisa-sisa salju semalam, hingga suhu udara yang sangat teramat dingin buatku yang biasa hidup di wilayah tropis (-5 derajat celcius) ikut mewarnai perjalan kami, anak-anak ayam, demikian kami memberi nama geng aneh ini. Baca lebih lanjut

Iklan

Laporan Observasi ke-5 di SD Negeri 119 Palembang

Naik Kereta Api dari Bandung ke Surabaya

Belajar Penjumlahan dengan Teknik Tanpa Menyimpan dan Teknik Menyimpan Pada Dua Buah Bilangan Puluhan dan Tiga Buah Bilangan Puluhan

 di Kelas II/c SD Negeri 119 Palembang

Oleh : Dwi Afrini Risma (NIM: 20112812009)

e-mail: dwiafrinrisma@ymail.com

Mahasiswa IMPoME 2011

A.    Pendahuluan

Pada tanggal 23 September 2011 dan 27 September 2011 dilakukan pembelajaran penjumlahan dengan teknik tanpa menyimpan dan dengan teknik menyimpan. Pembelajaran yang dilakukan dalam dua pertemuan ini, berlangsung selama +50 menit pada pertemuan pertama, dan +100 menit pada pertemuan kedua. Proses pembelajaran ini diikuti oleh seluruh siswa kelas II/c SD Negeri 119 palembang yang berjumlah 20 orang. Pada pertemuan pertama pembelajaran dibawakan oleh penulis dan Dewi Hamidah, sementara pada pertemuan kedua, proses pembelajaran hanya sampaikan oleh penulis. Dalam dua pertemuan ini, penulis mencoba mengulangi konsep penjumlahan dengan teknik tanpa menyimpan dan mengenalkan teknik penjumlahan dengan teknik menyimpan pada bilangan puluhan melalui pendekatan metode PMRI, yakni dimulai dengan msalah yang sesuai dengan konteks pembelajran dan membiarkan siswa sendiri yang menemukan konsep penjumlahan dengan teknik menyimpan tersebut, sedangkan guru bertindak sebagai pembimbing.

 B.     Tujuan

Tujuan dilakukannya observasi ini adalah agar siswa dapat melakukan penjumlahan bilangan puluhan dengan teknik menyimpan melalui pendekatan PMRI.

 C.    Latar Belakang Penelitian

Latar belakang peelitian ini adalah ingin mengetahui bagaimana efek pembelajaran dengan pendekatan PMRI terhadap pemahaman siswa dalam melakukan operasi penjumlahan pada dua buah dan tiga buah bilangan puluhan dengan teknik menyimpan.

Untuk membaca lanjutannya silakan klik Naik Kereta Api dari Bandung ke Surabaya

Laporan Observasi Ke- 4 di SD Negeri 119 Palembeng

“Berbelanja di Toko Aksesoris Upin dan Ipin”

Belajar Melakukan Operasi Penjumlahan pada Bilangan Ratusan dengan Teknik Tanpa Menyimpan dan Teknik Menyimpan di Kelas II/c SD Negeri 119 Palembang

Oleh : Dwi Afrini Risma (NIM: 20112812009)

e-mail: dwiafrinrisma@ymail.com

Mahasiswa IMPoME 2011

 A.      Pendahuluan

Pada tanggal 11 Oktober 2011 dilakukan pembelajaran penjumlahan bilangan ratusam dengan teknik tanpa menyimpan dan dengan teknik menyimpan. Pembelajaran yang dilakukan dalam satu pertemuan ini, berlangsung selama +100 menit pada pertemuan kedua. Proses pembelajaran ini diikuti oleh seluruh siswa kelas II/c SD Negeri 119 palembang yang berjumlah 20 orang. Pada pertemuan proses pembelajaran sampaikan oleh penulis dan Dewi Hamidah. Dalam pertemuan ini, penulis mencoba mengingatkan kembali konsep nilai tempat bilangan ratusan mengenalkan teknik penjumlahan tanpa dan dengan teknik menyimpan pada bilangan ratusan melalui pendekatan metode PMRI, yakni dimulai dengan msalah yang sesuai dengan konteks pembelajaran dan membiarkan siswa sendiri yang merumuskan konsep penjumlahan dengan teknik menyimpan tersebut, sedangkan penulis dan rekan bertindak sebagai pembimbing.

 B.       Tujuan

Tujuan dilakukannya observasi ini adalah agar siswa dapat melakukan penjumlahan bilangan ratusan tanpa dan dengan teknik menyimpan melalui pendekatan PMRI.

 C.      Latar Belakang Penelitian

Latar belakang peelitian ini adalah ingin mengetahui bagaimana efek pembelajaran dengan pendekatan PMRI terhadap pemahaman siswa dalam melakukan operasi penjumlahan pada bilangan ratusan dengan teknik menyimpan.

Untuk Membaca lanjutannya silakan download file-nya di Berbelanja di Toko Aksesoris Upin dan Ipin

Classroom Observation Report in grade II/c of SD Negeri 119 Palembang

Addition of Numbers Dozens Stackable in Long And Short tiered
By: Dwi Afrini Risma (20112812009)
Student of IMPOME Unsri 2011

Introduction
The sum is one material that has been studied in 1st grade of elementary school in the first half of the year. The difference is in the first half of this second class, we discussed about the material that involves dozens of numbers, where the process involves the calculation of simple figures without storage. On Friday, 16 September, the observer in collaboration with teacher PMRI SD Negeri 119 Palembang taught about the summation of the material for dozens of numbers without storage where the teaching -learning process used The Realistic Mathematics Education approach.

Purpose
The purpose of this observation is that students can do the summation of numbers without dozens of tiered storage by way of long and short compound.

Observation Questions
Is the teaching method used can help students to understand and perform the summation as it existed on the purpose of this observation?

Results and Discussion
The teaching-learning process in class IIc Elementary School 119 began with an introduction of observer and goals of the observer conduct the observation. First of all, the teacher collected the students Homework assignment (PR) from the previous meeting, then proceed to review the material about the dozen of s number by Ms. Agustini as the teacher of that class. From the review process that was done, it clearly seen that students have been able to recall material previously taught. Furthermore, mothers Agustini divided students into 4 (four) groups consisting of 5 (five) students. Each group was given the name of the flower, the Jasmine, Orchid, Dahlia, and the Rose. Students were enthusiastic and excited when she instructed them to Formatting groups according to predetermined rules.

Figure 1. the students is Counting the number Beans Nuts Provided

At the beginning of learning, Ms. Agustini shared some seeds of beans in each group with different amounts. Each group was required to calculate the amount of beans. After the calculations are done by all the groups, one student from each group will be appointed to write the results of their calculations with the notation of numbers. Then the teacher asked students to pronounce the numbers as she again reminded the material last meeting and explain what is meant by summing the length notation and how to do summation using length notation. While there were few students who could not write and read properly, then other students will succeed by providing answers alternately. Next students are introduced to the process of summation of numbers without a tiered storage in a way short. Then students performed the calculations using the media of beans. Teachers pointed out that the calculation procedure that must be performed. Then, students were given several questions that are relevant to the material just taught that done in groups.

Figure 2.a. Students are working on the questions given guided by Ms. Agustini

students are doing their LKS

The observer and the teacher helped to assist and guide students in the teaching-learning process. Interestingly, there are some students who did not use the media provided by teacher, they just used their fingers as a tool, because they assumed arithmetic using the fingers more easily than grain. In addition, they also argued that the fingers made them understand more easily than the grain medium. Seeing this phenomenon, the authors tried to explain the similarities between the use of the fingers and beans. However, this did not interfere with the process of discussion. Each group worked well, and each student in the group actively participated in group discussions conducted. The number of students that only consists of 20 students allowed the learning process takes place with a conducive.

a Student is writing the answer of the problem givena students is trying to solve a problem given

a students is trying to solve a problem given

To determine the level of students’ understanding of the material, at the end of the discussion process, each group sent representatives to present the problems they have done, while the rest of other students who participated actively listening and responding to answers from their friends. Students were given the opportunity to compare their answers and then directed to take a series of conclusions from the learning process has just done.

Conclusion
From the observations made today, it can be conclude that students are able to do addition problems without saving tens of numbers in a way Stackable long and short way. They have also been able to relate summation process which they do in daily life, although there were still a small amount of students who were still experiencing difficulties.

Laporan Hasil Observasi di SD Negeri 119 Palembang


Pendahuluan

SD Negeri 119 Palembang merupakan salah satu sekolah percontohan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) yang ada di Palembang. Sekolah yang beralamat di jalan Musi Raya Barat Perumnas Sako ini, telah memulai kerjasama dengan program studi Pendidikan Matematika Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya sejak awal tahun 2010 silam. Sekolah yang berada di bawah pimpinan ibu Rusmawati ini, rata-rata memiliki 3 kelas di tiap jenjang pendidikannya kecuali pada kelas 1 dan 6 yang masing-masing hanya memiliki 2 kelas.

 

PMRI in SD Negeri 119 Palembang

Pada tanggal 18 Agustus 2011 dilakukan observasi lapangan ke SD Negeri 119 Palembang. Pada saat itu seluruh siswa yang meliputi siswa kelas 1 hingga kelas 6 sedang melaksanakan acara pesantren kilat di lapangan sekolah. Setelah menunggu serangkaian acara pesantren kilat selesai, akhirnya kami dapat bertemu langsung dengan Kepala Sekolah. Kedatangan kami disambut mesra oleh ibu Rusmawati beserta staf. Dari proses tanya jawab yang kami lakukan, terlihat bahwa beliau sangat antusias pada program PMRI ini, karena menurut beliau proses belajar mengajar haruslah menarik dan dapat dinikmati oleh siswa dan guru. Dari keterangan beliau, diketahui bahwa sekolah ini mulai melaksanakan program PMRI sejak januari 2010 dan terus dilaksanakan secara berkesinambungan hingga saat ini.

Menurut keterangan beliau, sekolah yang memiliki 16 total kelas secara keseluruhan ini, terdapat 9 orang guru yang konsisten menjalankan program ini. Akan tetapi sangat disayangkan bahwa kami tidak dapat bertemu langsung dengan guru-guru tersebut karena sedang mengikuti program Diklat Sertifikasi Guru. Pelaksanaan PMRI telah meliputi hampir tiap jenjang kelas yang ada, kecuali kelas 6. Hal ini disebabkan oleh karena keterbatasan sumber daya guru yang menguasai PMRI. Meskipun beliau sempat menyayangkan adanya beberapa guru yang belum menerapkan sistem pembelajaran ini, akan tetapi tidak meredakan tekad beliau dan rekan-rekan untuk tetap konsisten dalam menjalankan program ini.

Pada kesempatan yang berbeda yaitu pada tanggal 19 Agustus 2011, dilakukan wawancara terpisah terhadap beberapa guru kelas yang sedang mengajar di kelas. Menurut pengakuan guru-guru tersebut, mereka enggan melaksanakan sistem PMRI ini karena jumlah siswa di kelas yang melebihi kapasitas ideal PMRI, keterbatasan dana, jam pelajaran yang dinilai cukup singkat untuk mengeskplorasi lebih luas terhadap sebuah pokok bahasan, serta tuntutan ketuntasan pembelajaran. Walaubagaimanapun, motivasi yang tinggi, kerja keras dan kerjasama antarsesama guru, tidak menyurutkan konsistensi tersebut.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil observasi yang sudah dilakukan selama dua hari berturut-turut ini, dapat disimpulkan bahwa sejauh ini sosialisasi dan penerapan kelas PMRI di SD Negeri 119 Palembang sudah cukup baik. Walaupun kami belum sempat bertemu langsung dengan guru yang terlibat secara langsung dengan pelaksanaan ini, berdasarkan kesepakatan dengan Kepala Sekolah bahwa observasi selanjutnya akan dilaksanakan usai libur lebaran idul fitri mendatang. Hal-hal mengenai kelas yang akan menjadi objek penelitian dan jadwal observasi berikutnya akan ditentukan pada pertemuan dengan guru PMRI pada observasi selanjutnya.