Apakabar Bloggers!

Lama menghilang dari dunia per-blog-an, akhirnya saya dapat kembali menggoreskan sesuatu di blog pribadi ini. Hampir setahun (jangan-jangan sudah lebih) blog ini terbengkalai begitu saja. Maklum, kesibukan mengurus penelitian untuk tesis, menyelesaikannya hingga wisuda cukup menyita waktu, energi, dan perasaan. Loh kok?! Ya dong, selama setahun di Belanda saya hanya memiliki waktu tiga hari untuk melepas rindu dengan keluarga dan orang tercinta.

Pertanyaannya sekarang adalah apa saja yang sudah terjadi selama absen dari blog ini? Sangat luar biasa banyaknya. Mulai dari mengikuti South East Asia – Design/Development Research (SEA-DR) Conference yang pertama, berhasil menyelesaikan tesis dengan nilai A (bangga banget ya?!), wisuda, terbitnya jurnal pertama hasil buah pikirku yang dipoles oleh Pak Yusuf Hartono dan Bu Ratu Ilma  yang berjasa menyelesaikan permasalahan pembiayaannya, hingga dilamar oleh sang mantan pacar dan menikah, dan kini berstatus sebagai seorang dosen tetap di sebuah universitas swasta yang ada di Kota Batam. Hohoho.. banyak cerita banyak kisah.

Cerita kali ini ingin saya fokuskan ke pembahasan tentang cerita di balik penelitianku di SD Negeri 117 Palembang. Masa-masa bekerja dengan siswa kelas III.A  sangat saya nikmati, pasalnya selain bisa bernostalgia dengan masa kecil, siswa-siswa tersebut memiliki rasa antusias dan motivasi belajar yang relatif tinggi. Sebelum meneliti, tepatnya pada saat menyusun instrumen pembelajaran, ada banyak kekhawatiran yang mengalir dalam setiap mililiter darah dalam tubuh ini. Bagaimana kalau siswanya tidak tertarik dengan pelajarannya, bagaimana kalau siswa jadi tambah bingung, bagaimana kalau gurunya tidak mau bekerjasaam untuk mengajarkan topik ini? dan banyak pertanyaan lain yang istilah remaja saat itu bikin galau keleees… Pada saat itu Mieke selalu menguatkan, “You design an interested lesson series and it is beautifully connected each other. I should say that you are born with many hidden talents and as a designer. You are full of surprises”. Kata-kata yang diucapkan Mieke pada saat farewell party tersebut masih terekam jelas diingatanku. Mieke J. Abels, sang supervisor juga mengatakan “It was the project in which you are struggle working with your group that make you fall in love in this topic. At that moment, I saw your blinking eyes and I thought that this girl who is always says “I don’t know” every time we discuss about Geometry has fallen in love with Geometry” .

Ketika topik ini terpilih, masih terdapat masalah lain yang lebih krusial. Setelah dicek dan ricek dengan mengobrak-abrik silabus, SK, KD, hasilnya ternyata topik ini diluar pembahasan kurikulum. Maarten, Mieke, Dolly, dan Frans berjuang meyakinkan supervisor dari Unsri yang pada saat itu diwakili oleh Pak Zulkardi dan Bu Ratu Ilma. Alhamdulillah topik ini diluluskan pada saat seminar proposal yang dilaksanakan di sebuah benteng tua bersejarah di Utrecht. Dengan memanfaatkan pengaruh Bu Ratu Ilma dan dengan kerjasama Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Wali kelas, dan tentu saja siswa kelas III.a, alhamdulillah penelitian ini bisa berjalan dengan baik.

Meneliti di Palembang tak mudah, kawan. Tak ada teman yang mendampingi, jauhnya lokasi penelitian dari kos-kosan, macetnya kota Palembang, dan yang paling parah waktu itu adalah aku harus berjuang melawan penyakitku yang sewaktu-waktu bisa kambuh jika badan sudah terlewat lelah. Aku masih ingat suara papa yang menangis di ujung hand phone pada saat penyakitku kambuh, dan pada saat itu aku seorang diri, kawan. Tanpa teman, tanpa saudara. Belum lagi saat aku disuruh rawat inap sama dokter, gila aja tinggal sendirian di rumah sakit, dengan infus di tangan. Nee.. Nee… Nee… Tapi semua itu berbuah indah, sebuah kepuasan batin yang tak tertandingi oleh gelar Master of Science (M.Sc) yang diberikan oleh universitas. Saya telah memberikan sebuah kontribusi penting dalam penelitian Design Research di bidang Spatial Ability, yakni sebuah konjektur pemikiran siswa yang sebelumnya belum pernah didokumentasikan lewat karya tulis ilmiah. Boleh bangga dikit dong dengan diri sendiri. Hehehe..😉

Menuntut ilmu ibarat menanam pohon buah, awalnya terasa sulit tapi buahnya manis (bukan buah mengkudu ya, tapi tetap aja banyak khasiatnya buah mengkudu itu kan?). Setelah sekian banyak pengorbanan, pohon tersebut akhirnya mulai berbunga. Artikelku, karya tulisku, hasil penelitianku dinyatakan lulus seleksi di sebuah jurnal bertaraf internasional. Ga percaya?! Cek deh link berikut ini http://www.ccsenet.org/journal/index.php/ies/article/view/28241. There is my name! Hehehe… Tawaran datang silih berganti dari penerbit, mulai dari tawaran resmi dari Utrecht Universiteit untuk menerbitkan tesisku dalam bentuk hard copy, tawaran untuk menuliskan buku yang sumbernya dari penelitianku, tawaran beasiswa S3 untuk meneliti topik tsb lebih lanjut, dsb. Lumayanlah, bikin hati berbunga-bunga dan membuat diri merasa penting setelah sempat down karena tak kunjung dapat panggilan kerja.

1 minggu setelah wisuda, akhirnya sebuah pinangan datang ke orangtuaku. Seminggu kemudian pinangan tersebut diresmikan dengan acara hantaran belanja (adat melayu Riau) atau biasa kita kenal sebagai acara pertunangan. Selang beberapa bulan akhirnya pada tanggal 10 Januari 2014, statusku resmi menjadi istri dari Muhamad Said. Tanggal 11 Janurari 2014 pun dipilih sebagai hari resepsi pernikahannya. Kini, tepat 3 bulan setelah menikah statusku sudah bertambah satu lagi, sebagai pengajar di Universitas Riau Kepulauan. Ini kisahku… Tak sabar ingin menulis tentang matematika atau PMRI di tulisan selanjutnya.

Batam, Mengenang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s