Belajar Bikin Pendahuluan alias Introduction

Saat ini, saya sedang mengikuti mata kuliah Design Research. Dibimbing oleh Dolly van Eerde, saya diminta untuk membaca sebuah mini artikel, yang menurutku lebih mirip sebagai pedoman atau petunjuk penulisan artikel. Setelah membaca artikel ini, saya diminta untuk membaca tiga artikel kemudian menuliskan “3 moves” yang terdapat pada artikel-artikel tsb. Apa sih yang dimaksud dengan “3 moves” itu? Yuk, sama-sama kita simak.

Secara umum, penulisan introduction atau apa ya dalam istilah kita?! pengantar atau pendahuluan kalau saya tidak salah, mengikuti 3 struktur penting yang pada artikel ini dikenal dengan istilah “move”. Sebuah “move” merupakan tahapan-tahapan yang dilalui oleh sang penulis dalam menyusun argumentasinya atau alasan-alasan penulis melakukan sebuah riset atau penelitian. Apa saja sih “the moves” itu? Nih dia penjelasannya.

Move 1 (Establishing a research territory): Tahapan ini ditandai dengansang penulis mengembangkan teritori sebuah riset. Hal ini dapat dilakukan dengan mendeskripsikan secara umum, alasan mengapa riset di domain ini penting, menarik, problematik, atau relevan. Di beberapa jurnal bisa kita temukan sang penulis memperkenalkan dan meninjau ulang riset-riset berkaitan yang pernah dilakukan sebelumnya.

Move 2 (Establishing a niche): Biasanya move 2 ditandai dengan pernyataan-pernyataan yang mengindikasi kelemahan-kelemahan dari riset-riset yang telah ada, adanya gap atau jurang antara seuau teori dengan teori yang lain, atau bisa berupa pernyataan yang mempertanyakan validitas, reliabilitas dari hasil sebuah riset. Di beberapa artikel, move 2 ini ditandai dengan pernyataan sang penulis bahwa beliau ingin memperluas riset yang telah ada.

Move 3 (Occupying the niche): Biasanya ditandai dengan pernyataan atau argumentasi sang penulis bahwa sang penulis akan memperbaiki atau melengkapi permasalahan-permasalahan yang dijabarkan pada move 2. Pada umumnya di tahapan ini penulis akan menjelaskan tentang tujuan riset ini, apa yang akan dilakukan di riset ini, dan sedikit penjelasan tentang risetnya. Beberapa penulis juga mencantumkan pertanyaan riset, hipotesis yang akan dibuktikan, dan temuan utama dari risetnya.

Biar lebih jelas dengan apa yang dimaksud dengan “3 moves” tersebut, berikut ini saya sajikan beberapa contoh dari 3 artikel yang telah saya baca (tetapi dalam bahasa Inggris, ga apa-apa ya?!).

 

Spatial Visualization tasks to support students spatial structuring in learning volume measurement

Shintia Revina, Zulkardi, Darmawijoyo, & Frans van Galen

Move 1 (Establishing a research territory):

The students in grade 5 often have difficulty in fully grasping the concept of volume. In those grade  is the transition period from primary to secondary education when more abstract method for measuring volume are introduced. … It indicates that the students need to practice with concrete task in which they can well perceived the constructed views of the organization of a three dimensional rectangular array made of unit cubes before engaging with its pictorial representation.

Move 2 (Establishing a niche):

Considering the important of that domain and realizing that lack of research about this domain in Indonesia, we designed a study to develop classroom activities, which RME underlies its design, with the use of spatial visualization tasks to support students’ spatial structuring in learning volume measurement in grade 5 elementary school of Indonesia.

Move 3 (Occupying the niche):

This report discussed an experimental study in which we aimed to better understanding… Therefore, this study pose a question: How can spatial visualization tasks support students’ spatial structuring in learning volume measurement in grade 5?

 

Examining the Relation between Visual Imagery and Spatial Ability Test

Lorelle J. Burton

 Move 1 (Establishing a research territory):

Psychometric research has indicated that certain factors in the spatial domain represent combination of the ability to create, maintain, and transform abstract, visual images (El Koussy, 1935; Griffits, 1927; Lohman, 1979; Smith, 1964). … Such findings dispute the tendency to interpret spatial test performance as an index of imagery ability.

Move 2 (Establishing a niche):

The lack of a definite correlation between subjective measures and spatial ability test has led to a disregard for the self-report technique as a measure of visual imagery ability. … This study anticipated that these new measures would results in significant correlations between self-report imagery ability and spatial test performance.

Move 3 (Occupying the niche):

The aim of the Burton and Fogarty (2003) study was … This article, in contrast, focused specifically on the relation between subjective and objective measures of visual imagery ability. The main aim was to examine the relation between introspective reports of imagery and spatial test that are presumed to require imagery….

 

Types of reasoning in 3D geometry thinking and their relation with spatial ability

Marios Pittalis & Constantinos Christou

Move 1 (Establishing a research territory):

Most of the publications concerning the relation between spatial visualization and students’ mathematical abilities underlined …

Move 2 (Establishing a niche):

In the present study, we differentiated between two interrelated abilities, the spatial abilities and the abilities that are closely related to 3D geometry.

Move 3 (Occupying the niche):

The main purpose of the study is to examine, in a unified theoretical framework, 3D geometry and spatial abilities. We purpose …

Sudah baca, kan?! Jadi menulis tulisan ilmiah baik itu skripsi, tesis, disertasi, maupun jurnal, punya aturannya sendiri. Beda banget dengan apa yang saya lakukan saat menulis bagian pendahuluan pada saat menulis skripsi yang lalu. Dulu saya hanya melihat contoh yang sudah ada kemudian meniru skripsi yang sudah ada, mengubah-ngubah sedikitlah. Mengapa begitu?! karena memang tak ada pelatihan atau pedoman untuk itu. Buat para pembaca yang sedang berjibaku dengan skripsi atau tulisan ilmiah lainnya, semoga tulisan ini bermanfaat dan ga mengulangi tulisan ngalur ngidul yang saya lakukan saat menulis bagian pendahuluan skripsi dulu.

References

Burton, L. J. (2003). Examining the Relation Between Visual Imagery and Spatial Ability Test. International Journa ofl Testing, 277-291.

Pittalis, M., & Christou, C. (2010). Types of reasoning in 3D geometry thinking and their relation with spatial ability. Educ Stud Math, 191-212.

Revina, S., Zulkardi, Darmawijoyo, & van Galen, F. (2011). Spatial Visualization Task to Support Students’ Spatial Structuring in Learning Volume Measurement. IndoMS. J.M.E, 127-146.

 

 

2 thoughts on “Belajar Bikin Pendahuluan alias Introduction

  1. mbak, mau tanya..
    pada penelitian design research itu, validitas nya gimana?
    kalo pada developement research kan ada expert review dan one-to-one. nah, kalo di design rrsearch gimana mbak?
    makasih..😀

    • Saya bukan expert dibidang ini, dan masih baru bgt belajar design research, yg saya pahami sejauh ini adalah Validitas pada design research lebih ditekankan pada bagian analisis datanya. Hal ini karena tujuan design research sendiri adalah to get clear description on how a learning design work or does not work (support or does not support students’ in grasping a material). Selain itu, tujuan lain dari design research adlh to develop local instructional theory, yg mana lebih ditekankan utk membuat pembelajaran lebih eficient, effective, and meaningful. Dengan demikian, design research lebih fokus tentang proses pembelajaran siswa daripada result (berbeda dg experimental study). Jadi yg menentukan validitas dan realibilitas riset tsb adalah adanya data triangulation that involves different sources: the written test, field note, interview, the pupils work, and videotaping. Cross-interpretation jg berkontribusi pd external-validity.

      Untuk desainnya sendiri, validitas dpt dilakukan dg review dari beberapa expert dibidang pendidikan (designer pendidikan), guru, atau some experts in mathematics education. Jika salah satu aktivitas, atau instrument has been used in the similar study, it also contributes to the validity. Tapi yang saya alami, ga seribet development research yg dilakukan oleh rekan saya yg harus one-to-one. Design research lebih flexible menurut ya..

      Semoga menjawab🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s