Ngalur-Ngidul 2: Pengalamanku mengikuti ISDDE Conference 2012

Tanggal 10-13 September yang lalu, saya bersama ke-12 mahasiswa IMPoME 2011 mengikuti ISDDE Conference 2012. Kalau ada yang bertanya-tanya, apa sih ISDDE itu? ISDDE adalah singkatan dari International Society for Design and Development for Education. ISDDE merupakan komunitas profesional yang betujuan untuk meningkatkan desain dan prosess kemajuannya, mendirikan desain komunitas, dan meningkatkan pengaruh komunitas tersebut terhadap praktik di dunia pendidikan. Bingung ya membacanya? Ya sudah dari pada pusing membaca hasil terjemahan yang ngalur ngidul, monggo baca info selengkapnya di link berikut ini.

http://www.isdde.org/isdde/index.htm

ISDDE Conference tahun ini dilaksanakan di Utrecht, kota tempat saya menetap tahun ini, iyaa.. masih Belanda juga kok. Karena dari judulnya adalah Pengalamanku, jadi untuk informasi selanjutnya tentang ISDDE Utrecht 2012, silahkan ke link berikut ini saja ya…🙂

https://sites.google.com/site/conferenceisdde/

Sungguh suatu kesempatan yang luar biasa sekali saya bisa mengikutikuti koferensi ini. Kesempatan ini tidak hanya mahal (karena untuk mengikuti konferensi ini harus merogoh saku 500 euro diluar biaya tiket, sementara saya dan teman-teman bisa mengikutinya dengan gratis), tapi juga sungguh pengalaman yang sangat berharga. Bertemu dengan orang-orang hebat sekelas Malcolm Swan, Elizabeth Stage, Hugh Burkhardt, Jan de Lange, Jacqeuline Barber, Phil Daro, Susan McKenney, David Webb, Christian Schunn, dan banyak lagi, sungguh merupakan sesuatu yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Dari mereka aku belajar banyak hal, salah satunya adalah belajar ilmu padi seperti yang Papa selalu ajarkan pada kami aak-anaknya, “semakin berisi, semakin merunduk”. Ya, mereka adalah para profesional yang cerdas, bersahaja, ramah, rendah hati, mau mendengarkan, dan selalu hadir dengan pemikiran dan ide-ide cemerlang. Sebut saja Malcolm, orang-orang yang bergerak di dunia pendidikan pasti tahu dengan nama besar ini. Di sela-sela jeda istrirahat antar sesi, beliau dengan logat British nya yang khas pasti dengan ramah dan sabarnya selalu meladeni pertanyaan kami sang “budak-budak galau” ini, mau mendengarkan, memberi saran dengan cara yang bijak, memberi pujian, memotivasi, dsb. Atau Susan McKenney, yang dengan ramahnya menawarkan jasa untuk mengambil foto kami sang bocah-bocah galau nan hobby berfoto ini. Hihihi..

Mahasiswa IMPOME 2011 dan Susan McKenney

Selama berada di konferensi ini, saya bekerja di working group Implementation and Dissemination Design Strategy, bersama Hugh, Elizabeth, Frank Davis, Christopher Lazzaro, Sieske Tacoma, Christian, Katja, Evangelista (IMPOoME), dan Elika (IMPoME). Dibawah komando Katja, working group ini memfokuskan pembahasan pada case study. Setelah melakukan bincang-bincang alias berdiskusi, kami mengasilkan framework dan model implementasi pembelajaran inovatif. Seperti yang ditampilkan pada gambar berikut ini.

Banyak pemikiran-pemikiran yang cerdas yang dapat saya kutip dari mereka, khususnya yang berkaitan dengan penelitian yang akan saya lakukan pada thesis saya nantinya. Kalau ada yang bertanya-tanya apa kontribusi saya di konferensi ini? Jawabannya adalah hampir nihil. Apa sebabnya?! Ternyata bekerja bersama orang-orang yang levelnya sudah di atas itu susah sekali, saat diskusi dimulai maka pada saat yang sama kebingungan itupun juga turut dimulai. Dengan pengetahuan yang jauh dari cukup, bahasa Inggris yang kacau balau, saya hanya menjadi penonton orang bertanding “badminton”. Selama diskusi berlangsung kepalaku hanya bergerak ke arah asalnya sang pembicara saja, karena memang saya tak mengerti apa yang mereka diskusikan dan karena kendala bahasa juga. Kemudian sesaat aku berpikir, pantas selain Jepang dan Israel, tak ada orang Asia yang mengikuti konferensi ini, faktor pendukungnya juga mungkin karena memang tak ada designer dari Indonesia yang tergabung dalam organisasi ini.

Lanjut ke kisah yang lainnya. Pada tanggal 12 September 2012, seluruh peserta konferensi dimanjakan dengan menikmati perjalanan menelurusuri kanal yang terdapat di kota Utrecht in menuju sebuah restaurant. Di resto ini, kami menikmati santap makan malam ala Belanda, yang memang tak sesuai dengan seleraku sebagai orang asli Indonesia. Hehehe.. Sebelum menikmati makan malam, sebuah persembahan Tari Saman yang berasal dari Aceh, ditampilkan secara apik oleh mahasiswa IMPoME 2011. Yuk, kita lihat videonya.

Sayangnya, tak banyak foto dokumentasi mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama konferensi ini. Hanya beberapa foto tempat pelaksanaan konferensi yang sempat saya abadikan. Yuk lihat fotonya di link di bawah ini.

https://www.facebook.com/media/set/?set=a.4261289982795.157831.1602314559&type=3

Hmm.. Sepertinya ceritanya udahan dulu ya. Masih banyak tugas kuliah dan artikel-artikel yang harus saya baca nih. Semoga dilain waktu saya bisa menuliskan cerita dan kisah yang lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s