Ngalur-Ngidul Episode 1: Happy Birthday My Blog

Terdampar di negeri kincir angin sungguh bukan hal yang pernah aku bayangkan. Walaupun dari kecil saat belajar sejarah atau nonton film perjuangan, seingatku aku pernah ingin sekali merasakan berada di daratan Eropa, khususnya Belanda. Tapi sekali lagi itu hanyalah khayalan anak kecil (ga terasa sekarang saya sudah 24 tahun menikmati udara bersih gratis buatan Allah SWT, Alhamdulillah….). Walapun sempat beberapa kali mendapatkan de javu, tapi sejujurnya kukatakan bahwa, si anak kampung ini tak pernah berani berangan-angan akan menikmati kuliah di luar negeri. Karena saya sadar betul siapalah si anak kampung ini, bukan hanya faktor keterbatasan ekonomi orangtua (alhamdulillah Allah menganugerahi orangtua yang sangat bertanggung jawab pada kami anak-anaknya, biarpun hujan, petir, dingin, siang maupun malam, mama dan papa tetap semangat berangkat bekerja dipayungi baju hujan ala kadarnya), tapi juga karena keterbatasan kemampuanku, karena memang aku bukan anak dengan kecerdasan tinggi.

Jadi, jika memang Papa dan Mama menyanggupi untuk menyekolahkan kami keluar negeri, maka aku sudah pasti dengan penuh lapang dada mengalah, karena aku tahu, abang dan adikku lebih berhak untuk itu. Tapi ternyata Allah punya rencana lain, dan takdirnya berkata lain. Saat ini, berkat izin Allah dan kedua orangtuaku, aku terdampar di negeri penjajah kita ini (walaupun sebenarnya yang menjajah adalah kongsi dagang mereka, tapi tetap saja ada campur tangan kerajaan Belanda, *hahaha… tetap anti penjajah). Tapi sebagai individu, aku berterima kasih sekali pernah dijajah Belanda, karena kalau misalnya kita ga dijajah Belanda, belum tentu hari ini saya bisa menikmati makan nasi, ikan teri, tempe, dan aneka masakan Indonesia di Belanda saat ini. *siap2 ngacir takut ditimpuk sama seluruh WNI*😉 Hahaha becanda kok.. Tapi beneran deh, seandainya kita ga dijajah sama Belanda, belum tentu kita merdeka, karena mental warga kita  itu mental terjajah, mental terjepit. Sebelum kepepet, ga jalan tuh pemikiran dan ide-ide cerdasnya, *kalau pembaca merasa dirinya bukan termasuk golongan ini, berarti saya sendirian dong yang begini?! maaf ya, makanya dicoret tuh.. T_______T

Oh ya, sebagai perkenalan *gila aja udah paragraf ke-3 baru masuk perkenalan?!*, tulisan ini adalah tulisan pertama dalam kategori Ngalur-Ngidul di blog ini. Ngalur-Ngidul sendiri nantinya dan Insyaallah akan menjadi kumpulan cerita-ngalur-ngidul yang saya tulis sesuai dengan apa yang saya rasakan pada saat menulis. Karena judulnya ngalur-ngidul, makanya sebelum mabok dengan alur cerita yang ga jelas, saya peringatkan anda untuk menyudahi membaca curhatan ga jelas saya ini, sebelum mendapatkan efek samping berupa muntah-muntah, sakit kepala, mual, pusing, bosan, bete, kesal, pengen pulang, dsb.

Nah, karena episode pertama, jadi saya pengen cerita sedikit tentang asal mula terbuat blog ini, *biar lebih fokus aja, ga tahu deh, ntar ujungnya kemana, hahaiii..* Sebenarnya, sebelumnya saya sudah punya blog pribadi di blogspot, isinya cuma curhatan ga penting, dan ga ngaruh, ga berbobot *bahasa Mama tersayang, kalau lagi berdebat kusir dalam rangka perebutan channel tv antara sinetron kesayangan mama ataupun nickelodeon*, walaupun yang ini juga ga bermutu-mutu amat, tapi lumayanlah… ada pake bahasa Inggris-Inggrisnya dikit, walaupun banyak yang salah-salah.. hihihi.. Tapi kemudian, tepatnya bulan September tahun lalu *wuiih sudah setahun dong usia blog ini*, Prof Zulkardi MEWAJIBKAN kita untuk membuat blog yang tujuannya adalah sebagai pembiasaan diri untuk menulis. Menurut beliau, seorang ilmuan itu dikenal melalui tulisannya. Menulis juga bukan sebuah keterampilan yang diperoleh dari lahir atau orang kita bilang bakat, lebih nyamannya kita pake bahasa beliau “gift”, tapi menulis adalah sebuah kebiasaan. Seberbakat apapun kita dalam menulis tapi kalau tidak terbiasa menulis dan membaca, maka tetap saja susah untuk menulis, *kayak saya ini nih… ngalur-ngidul aja bisanya*

Pendek kisah, dengan segala keterbatasan kemampuan, limit niat yang setengah-setengah bahkan mendekati nol, terlahirlah blog yang diberi nama persis seperti nama penulisnya. Awalnya sempat bingung, kesal, resah, gelisah, karena tak tahu apa yang akan ditulis di blog ini. Saya sempat menulis sesuatu tentang cinta, karena saya berpendapat bahwa ini adalah blog pribadi, kenapa saya tidak boleh menulis apa yang saya ingin tulis, kenapa harus dibatas-batasi. Ini sarana untuk mengekspersikan apa yang saya rasakan, tapi apa yang saya lakukan membuahi kritikan pedas dari rekan-rekan IMPoME. Karena kalut dan tak tahu akan menulis apa, kemudian saya membagikan tulisan orang lain di blog ini, lagi-lagi mendapatkan kritikan pedas, karena menurut mereka ga orisinil, blog copy-paste. Hello!! saya tulis sumbernya bang!! Saya ga copy-paste!! *kesel banget pada waktu itu, coba deh dipikir2, sudahlah kita ga niat buat blog, lebih tepatnya sudah punya blog dipaksa bikin blog baru, alasannya cuma karena wordpress lebih formal daripada blogspot, trus banyak bibir-bibir yang kalau berbicara tanpa mensinkronisasi antara pikiran dan hati* diperparah lagi dengan koneski internet di mess yang bikin pengen banting laptop aja. Beneran waktu itu bete banget. Trus, karena ada beberapa teman-teman yang ingin sekali mencari informasi beasiswa S2, si anak kampung ini pun menerbitkan beberapa informasi beasiswa yang dihubungkan langsung ke website resminya, *karena memang saya sering eksplorasi beasiswa pada saat itu* eeeh… masih aja ada yang komen, terlalu banyak inilah.. itulah.. anulah.. Hadoooh.. pusiiiing…

Setelah itu, si anak kampung ni masih juga semangat buka blog yang pengunjungnya tak seberapo ini, dan mengupload foto-foto kegiatan selama berkuliah di Unsri. Karena konsepnya, having fun, sweet memory terpilihlah foto-foto lucu, yang suatu hari nanti jika siapapun yang ada di foto-foto tersebut melihatnya, mereka akan ingat betapa mereka menikmati masa-masa penuh penderitaan ini. Ternyata, laut tak selamanya tenang, ada bisik-bisik bahwa orang-orang yang potretnya diupload marah karena menurut mereka merusak citra. Tapi anehnya, saat diposting di grup tak ada pula yang mengaku, cuma Ridho yang merespon bahwa fotonya kurang, yang lain diam seribu bahasa, apalagi orang yang merasa citranya dirusak. Sejak saat itu, kuputuskan untuk melupakan galeri tersebut. Jadilah sang gallery terbengkalai. Buat teman-teman yang ingin foto-fotonya diupload di blog ini, terus terang saja, saya masih dalam pengaruh efek jera. Bahkan di FB, dan dalam keseharianpun, aku lebih memilih untuk memotret alam, daripada memotret orang, karena urusannya REPOT, hak pribadi manusia.

6 BULAN berlalu, 25 Januari 2012 saya pun hijrah ke Belanda. Hari-hari di Belanda berlalu begitu saja, tanpa terasa hingga hari ini telah hampir mencapai bulan ke-9. Blog ini perlahan tapi pasti mulai terbengkalai dan terlupakan. Rutinitas sebagai mahasiswa yang dikejar tugas kuliah yang subhanallah banyaknya ini, membuatku menghabiskan waktuku hanya untuk tugas dan jurnal-jurnal. Hingga pada suatu hari, aku berinisiatif untuk menerbitkan tulisan-tulisan dan pendapat-pendapatku yang kutulis ditugas-tugasku di blog ini. Walaupun memang tak ada apa-apanya, tapi dengan niat ikhlas membagikan ilmu yang kuperoleh di sini, tulisan demi tulisan tetap saya terbitkan. Meski tak ada yang membacanya, tapi saya berpikiran, suatu hari nanti jika ada seorang anak manusia yang bernasib sama *lambatnya belajar, pengalamannya juga terbatas* membutuhkan informasi tentang apa yang pernah saya palajari atau sekedar butuh bacaan tambahan, maka tulisan-tulisan ini dapat membatu walaupun sedikit sekali.

Sebenarnya saya sedikit merasa dilema. Tujuan saya berbagi tulisan ini adalah sebagai bahan referensi untuk guru-guru, praktisi pendidikan, siswa atau siapapun yang berkebangsaan Indonesia, tapi tulisan-tulisan saya malah berbahasa Inggris. Gimana sih? Saya berasumsi bahwa setiap orang akan lebih memilih mencari artikel atau bahan bacaan dalam bahasa kebangsaannya sendiri, dengan asumsi ini, itu artinya tulisan saya tidak akan sampai ke target reader yang dituju, yang baca pastilah bukan orang Indonesia, bule-bule. Bule-bule juga yang tambah pandai, ye tak?! Karena memang, saya pribadipun akan lebih cenderung memilih bacaan dalam bahasa daripada repot mikir dua kali; mencari makna dari tulisan tersebut dan memahami maksud sang penulis. Hmm…

Beberapa waktu yang lalu saya sempat mendiskusikan masalah ini dengan rekan Impomers saya. Salah satu dari mereka berkomentar, “kalau seperti itu suruh guru-gurunya belajar bahasa Inggris”.  Waduh, memahami bahasa Inggris saja sudah susah, ini pula disuruh memahami tulisan saya yang sudahlah pasti banyak terdapat kesalahan di sana-sini. Ini dia polemik yang saya pikirkan saat ini, KETERBATASAN SUMBER BACAAN. Sewaktu saya di Dumai, saya sempat berbincang-bincang tentang bagaimana kemajuan MGMP Matematika tingkat SMP di Dumai. Mama bercerita bahwa guru-guru di kotaku benar-benar haus ilmu, haus hal-hal baru, tapi sayang dahaga akan ilmu baru tersebut harus tertahankan oleh keterbatasan sarana dan fasilitas. Meskipun sudah ada internet, tulisan sumber berbahasa Indonesia sangatlah terbatas. Tapi seperti kata rekan saya, saat ini kami terlalu sibuk dengan deadline thesis yang menanti, jurnal-jurnal yang harus dipelajari, konferensi dan kuliah yang harus diikuti, dsb. Semoga suatu hari nanti, saya bisa menulis sesuatu yang lebih bermanfaat lagi di masa yang akan datang, semoga tulisan-tulisan blog ini bisa membantu para pembaca dan teman-teman pelajar semuanya.

Happy 1st birthday my blog..

I wish you can help more people then..

^___________^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s