Kunjungan ke Daltonshool Rijnsweerd (Part 1)

Hari ini (31 January 2012) kami, mahasiswa batch 3 IMPoME melakukan kunjungan ke salah satu sekolah unik yang ada di Utrecht, Belanda. Tujuan kunjungan ini adalah melihat sejauh mana perbedaan kurikulum yang diterapkan di sekolah ini dengan sekolah-sekolah yang ada di tanah air. Di awali dengan  serangkaian kisah lucu tentang bagaimana paniknya wajah salah satu teman kami karena perubahan jalur bus yang diluar dugaan (maklum baru) sampai berjumpa dengan warga negara Belanda yang menyapa ramah dengan bahasa Indonesia, hingga ngalur ngidul mencari bus stop station. Pagi hari yang masih terbilang sangat gelap, sisa-sisa salju semalam, hingga suhu udara yang sangat teramat dingin buatku yang biasa hidup di wilayah tropis (-5 derajat celcius) ikut mewarnai perjalan kami, anak-anak ayam, demikian kami memberi nama geng aneh ini.

kedatangan kami disambut oleh Peter, director sekolah ini dengan senyum hangat dan secangkir cokelat hangat yang lumayan mengobati sejuknya pagi hari yang mulai bermentari ini.Ditemani dan dipandu oleh Frans Van Galen, dosen pendamping yang menggantikan peran Jaap De Hertog yang sedang terbaring di rumah sakit akibat operasi kanker, begitu informasi dari Frans dan Betty Heijman, karyawan FIsme (Freudenthal Institute for Science and Mathematics Education) yang setia dan berbaik hati membantu kami hampir dari segala aspek, mulai dari menjempit di bandara Schipol, Amsterdam, hingga urusan tetek bengek lainnya.

Sekolah yang berlokasi di Jan Muschlaan 24, Utrecht ini tergolong sekolah mahal dan untuk golongan tertentu. Setelah pengenalan secara umum mengenai sekolah ini, kami diberi kesempatan untuk berkeliling melihat aktifitas belajar di sekolah ini. Unik sekali, berbeda dengan sekolah-sekolah di tanah air, umumnya di Inonesia pada jam pelajaran pastilah semua siswa duduk manis di kelas mereka sambil mengerjakana beberapa latihan soal, maupun melakukan diskusi. Tapi di sekolah ini, siswa dapat mudah kita temukan dimana saja, di lorong sekolah, di halaman, di kelas, di ruang gymnastic, mereka sedang sibuk dengan aktivitas mereka sendiri. ada yang sedang melukis, bermain puzzles, bermain domino, sedang “camping”, membuat peralatan ala suku Indian, ada yang sedang berhitung, bermain di halaman sekolah yang bersalju dan licin, sedang berdiskusi dengan temannya, dsb. Bahkan, ada beberapa kelas yang memang kosong karena siswanya sedang bermain di halaman sekolah.

Seperti yang kita lihat di televisi, dinding kelas dipenuhi dengan gambar-gambar hasil karya siswa, winter coat dan tas mereka tersusun rapi sesuai dengan nama mereka. Karena tepat di saat kami berkunjung, siswa grade atas sedang istirahat makan siang, jadi pengamatan kami fokuskan hanya pada grade bawah. Saat berada di kelas, kami diberikan penjelasan panjang lebar oleh Allen, salah seorang guru di sekolah itu. Beliau menjelaskan bahwa siswa dikelas tersebut terdiri dari 30 orang siswa, meskipun pada saat itu kita hanya menemukan 5 atau 6 orang siswa saja di kelas. Kami sempat bertanya-tanya, bagaimana dua orang guru bisa mengatur kelas yang terdiri dari 30 siswa dengan situasi setiap siswa berada di ruang yang berbeda dengan aktivitas yang berbeda? Dan bagaimana mungkin siswa bisa tahu apa yang mereka kerjakan tanpa adanya instruksi dari sang guru?

Menurut Allen, setiap kelas di grade bawah terdiri dari beberapa siswa dengan usia yang berbeda, misalnya 10 orang siswa berumur 6 tahun, 10 orang berusia 5 tahun, dan sisanya berusia 4 tahun. Setiap hari, siswa diberikan kebebasan untuk memilih aktivitas apa yang akan mereka lakukan, dan memberi tanda pada kegiatan tsb sesuai dengan simbol hari pada saat kegiatan tersebut dilakukan. Misalnya, Sovia melukis pada hari Rabu, maka ia akan memberi tanda titik biru pada kegiatan melukis pada papan pengatur aktivitas siswa. Tak hanya pada papan control tersebut, siswa juga diminta untuk mengakses data mereka di internet  pada laptop yang sudah tersedia di masing-masing kelas. Tujuannya adalah, agar guru dan orangtua dapat mengontrol jenis kegiatan mereka. Tak hanya itu, melalui system ini, kita dapat dengan mudah mengecek jadwal belajar siswa dan adanya kemungkinan siswa untuk curang atau mencontek pada saat ujian, tambah Peter.

Saya sempat bertanya di dalam hati, mengapa siswa berbeda usia ditempatkan dalam satu kelas, dan bagaimana mungkin guru mampu mengontrol dan memandu siswa yang berada di banyak tempat secara sekaligus? Dari Peter, kita dapat jawaban yang sangat impresif menurutku. Tenyata, siswa ini menerapkan system tutor sebaya, siswa yang lebih tua mengatur, mengarahkan, dan memandu adik-adik mereka. Sedangkan guru bertugas sebagai pelayan siswa dalam hal memenuhi rasa keingin tahuan mereka terhadap sesuatu.

Banyak hal menarik, sekaligus berharga yang saya pelajari dari bincang-bincang dengan Peter pasca keliling sekolah. Ternyata, sekolah yang berasaskan kebebasan ini, sangat menentang adanya sistemm ranking. Menurut Peter, tak seharusnya siswa dinilai dan diranking berdasarkan kecerdasan dan hasil nilai mereka, mengingat setiap siswa terlahir dengan tingkat dan jenis intelenjensia yang berbeda-beda. Pendekatan psikologi mereka terhadap siswa juga sangat berbeda, setiap siswa dipandang sebagai seorang pribadi yang perlu dihargai.

Peter juga berpandangan bahwa, siswa datang ke sekolah itu dengan sejuta informasi yang tersimpan dalam otaknya, tetapi masih dalam keadaan berantakan sekali. Nah, tugas guru sebagai professional adalah menyusun keping-keping informasi tersebut menjadi serangkaian informasi yang saling berkaitan dan bermanfaat.

 bersambung

6 thoughts on “Kunjungan ke Daltonshool Rijnsweerd (Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s