RSBI ; RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL ataukah RINTIHAN SEKOLAH BERBAHASA INGGRIS ?

Akhir-akhir ini kita sering melihat sekolah-sekolah berlomba-lomba meningkatkan standar pendidikannya dengan mengaet label RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) ataupun SBI (Sekolah Bertaraf Internasional). Hal inipun tidak telepas dengan program pemerintah untuk membuat sekolah-sekolah yang menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar dengan dalih untuk dapat bersaing dimata dunia. Akan tetapi apakah hal ini sejalan dengan nilai-nilai luhur kebangsaan dan arah kebijakkan pendidikan nasional kita yang melandaskan karakteristik bangsa ? Ataukah hanya sekedar peng”kasta”an siswa tanpa melandaskan prinsip keadilan sosial yang tertuang didalam dasar negara kita yakni pancasila.

Jika kita mereflekskan apa yang terjadi dilapangan, maka kita akan menemukan berbagai permasalahan yang ada pada program RSBI ini. Sehingga wajarlah jika kita mengatakan RSBI sebagai “RINTIHAN SEKOLAH BERBAHASA INGGRIS”. Rintihan-rintihan ini banyaklah terdengar dari pihak siswa maupun guru karena tidak siap dalam melaksanakan program ini.

Ketidaksiapan sekolah-sekolah dalam melaksanakan program RSBI dapat terlihat dari hasil penelitian dan evaluasi yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan Nasional. Dari hasil penelitian ini terungkap, lebih dari 80 persen guru dan kepala sekolah kemampuan bahasa Inggris-nya sangat rendah. Berdasarkan hasil test of english for international communication (TOEIC), para guru dan kepala sekolah berada di level novice (100-250) dan elementry (255-400). Kemampuan berbahasa Inggris yang rendah justru ada di guru-guru Matematika dan sains (Fisika, Biologi, dan Kimia). Padahal, di RSBI seharusnya mereka menyampaikan pelajaran dalam bahasa Inggris. Tapi anehnya, meski banyak sekolah yang belum memenuhi syarat, kenyataannya sekolah yang bermetamorfosis menjadi RSBI melonjak pesat. Dalam waktu kurang dari lima tahun, sudah ada 1.329 SD, SMP dan SMA/SMK berstatus RSBI.

Selain itu, pada pelaksanaannya sering juga tercium aroma berbau korupsi dalam mendapatkan status sebagai sekolah RSBI. Seperti yang dikritik LSM pemerhati korupsi ICW, ICW melansir adanya dugaan penyelewengan dana pendidikan RSBI. ICW menemukan setoran-setoran tak jelas dari sekolah kepada sejumlah pejabat di dinas pendidikan untuk memuluskan jalan menuju sekolah berlabel RSBI.

Dari pihak siswa, rintihan sangatlah terdengar terutama dari para siswa yang latar belakang ekonominya lemah. Karena tidak jarang sekolah mengambil pungutan yang lebih dengan alih-alih perbaikkan mutu dalam pelaksanaan RSBI. Selain itu, pengkastaan yang dilakukan lewat program ini menimbulkan retensi antar sesama siswa. Siswa-siswa yang masuk dalam kelas RSBI akan memandang dirinya sebagai orang kelas atas dan borjuis yang lebih hebat dari pada siswa-siswa yang tergabung dalam kelas Reguler. Begitupun sebaliknya, siswa-siswa regular akan memandang dirinya sebagai kaum kelas 2 dan bodoh, sehingga mereka membentuk konsep diri yang keliru.

Untuk melanjutkan bacaan anda, silakan klik disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s