Pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME)

a.       RME sebagai inovasi pendidikan matematika.

Sejak tahun 1971 Institute Freudental Belanda mengembangkan  sebuah metode pembelajaran yang diberi nama  Realistic Mathematics Education  (RME). Setelah dianggap berhasil diterapkan di Eropa dan Amerika, metode ini mulai berkembang ke Asia. Tepatnya tahun 2001 RME mulai merambah Indonesia.

Freudenthal (Tim MKPBM, 2001) menyatakan: “Mathematics is human activity”. Oleh karena itu pembelajaran matematika disarankan berangkat dari aktivitas manusia. Pada dasarnya, RME membimbing siswa untuk menemukan kembali konsep-konsep matematika yang pernah ditemukan para ahli matematika, hal ini biasanya disebut dengan “guided reinvention”. Pembelajaran dengan  RME banyak dipengaruhi oleh pemikiran Freudenthal tentang matematika. Menurut Freudenthal (Suyitno, 2004)  “mathematics must be connected to reality and mathematics as human activity”.

Dengan demikian, matematika harus dekat dengan kehidupan peserta  didik dan relevan dengan situasi kehidupan sehari-hari. Selanjutnya,  mata pelajaran matematika perlu dikaitkan dengan aktivitas manusia. RME merupakan model pembelajaran matematika di sekolah yang bertitik tolak dari hal-hal yang real   bagi peserta didik. Peserta didik harus diberi kesempatan untuk belajar melakukan aktivitas pada semua topik dalam mata pelajaran matematika.

Dengan demikian, pembelajaran RME menekankan pada keterampilan “process of doing mathematics”, berdiskusi, berkolaborasi,  berargumentasi, dan mencari kesimpulan dengan teman sekelas. Dengan cara ini, diharapkan siswa dapat menemukan sendiri bentuk penyelesaian suatu soal atau masalah yang diberikan kepada mereka. Tentunya tetap dibimbing oleh guru baik secara langsung maupun secara tak langsung.

 

b.      Karakteristik RME

Menurut Suyitno ada lima karakteristik dalam pembelajaran RME.  Kelima macam karakteristik tersebut adalah sebagai berikut.

1)      Pengunaan real context sebagai titik tolak belajar matematika.

2)      Pengguaan model yang menekankan  penyelesaian secara informal sebelum menggunakan cara formal atau rumus.

3)      Adanya upaya pengaitan sesama  topik dalam mata pelajaran matematika.

4)      Penggunaan metode interaktif dalam belajar matematika.

5)      Adanya upaya untuk menghargai ragam jawaban dan kontribusi peserta didik.

c.         Prinsip Utama RME

Gravemeijer dalam Yulianti (2006:12), menyatakan bahwa dalam merancang pembelajaran yang berbasis RME ada 3 prinsip utama (Key Principles) yang harus diperhatikan yaitu sebagai berikut.

1)  Penemuan Kembali Terbimbing dan Matematisasi Progresif (Guided Reinvention and Progressive Mathematization).

Dalam mempelajari matematika perlu diupayakan agar siswa mempunyai pengalaman dalam menemukan sendiri berbagai konsep, prinsip matematika dan lain-lain, dengan bimbingan orang dewasa, dengan melalui proses matematisasi horizontal dan matematisasi vertical, seperti yang dulu pernah dialami oleh para pakar pertama kali menemukan atau mengembangkan konsep-konsep atau materi-materi tersebut.

2)  Fenomenologi Didaktis (Didactical phenomenology)

Fenomenologi didaktis  mengandung arti bahwa dalam mempelajari konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan materi-materi lain dalam matematika, para peserta didik perlu bertolak dari masalah-masalah (fenomena-fenomena) realistik, yaitu masalah-masalah yang berasal dari dunia nyata, atau setidak-tidaknya dari masalah-masalah yang dapat dibayangkan  sebagai masalah-masalah yang nyata. Masalah yang dipilih  untuk dipecahkan juga harus didesuaikan degan tingkat berpikir peserta didik.

3)  Mengembangkan Model-model sendiri (Self-developed models)

Self-developed models mengandung arti bahwa dalam mempelajari konsep-konsep dan materi-materi matematika yanglain, dengan melalui masalah-masalah yang realistik peserta didik mengembangkan sendiri model-model atau cara-cara menyelesaikan masalah-masalah tersebut dengan berbekal pengetahuan penunjang yang telah dimiliki.Pendidikan matematika realistik menekankan pada penjelajahan penemuan,  you learn mathematics best by reinventing it (belajar matematika paling baik adalah melalui penemuan kembali). Interaksi antarpeserta didik  dengan guru merupakan hal yang mendasar dalam RME. Secara eksplisit bentuk-bentuk interaksi yang berupa negosiasi, penjelasan, pembenaran, setuju, tidak setuju, pertanyaan atau refleksi digunakan untuk mencapai bentuk formal dari bentuk-bentuk informal peserta didik. Yang diharapkan mampu mengembangkanpengertian peserta didik, dan akhirnya peserta didik mampumengaplikasikan kembali konsep matematika yang dimiliki padakehidupan sehari-hari atau pada bidang  lain di waktu yang akan datang. Sehingga diharapkan dengan pembelajaran RME, prestasi peserta didik dapat meningkat.

Dikutip dari: Skripsi “Keefektifan Pembelajaran RME (Realistic Mathematics Education) Berbasis Pemecahan Masalah (Problem Based-Learning) terhadap Kemampuan Peserta didik Kelas IV dalam Menyimpan Informasi ke dalam  Long Term Memory (LTM)”. Universitas Negeri Semarang. 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s